Pemda dan CSR

Perkembangan tanggung jawab sosial (social responsibility) sepenuhnya terkait dengan kewajiban entitas bisnis kepada masyarakat. Tanggung jawab ini kemudian menyatu dalam tanggung jawab ekonomi, hukum, etika dan  kebijakan (Carroll, 1979).

Kendati demikian, di Indonesia pelaksanaan CSR sering melalui ‘CSR broker’ berupa yayasan, badan-badan yang dibentuk oleh masyarakat baik berupa ormas, maupun institusi keagamaan. Bahkan, pemerintah daerah (pemda) pun tak mau tertinggal untuk turut menjadi penyalur CSR kepada masyarakat.

Keterlibatan pemda ini dapat dilihat dari banyaknya regulasi yang mengatur penyaluran CSR berupa peraturan daerah (perda). Terbitnya perda-perda CSR di daerah tentu menguntungkan pemda karena ada unsur ‘memaksa’ perusahaan-perusahaan untuk menyalurkan CSR kepada pemda atau minimal perusahaan tak dapat mengelak untuk menyalurkan CSR kepada masyarakat.

Terlepas dari praktek yang terjadi di Indonesia tersebut, CSR sesungguhnya bersifat sukarela atas kesadaran perusahaan sebagai wujud tanggung jawab perusahaan terhadap keberlangsungan usahanya. Jadi sesungguhnya, ketika perusahaan berniat untuk menjaga keberlangsungan usaha, maka perusahaan wajib menyalurkan CSR dengan kesadaran dan kesukarelaan tanpa adanya regulasi yang mengaturnya.

Pelaksanaan CSR di Indonesia harus disadari sebagai sebuah proses. Dari sisi perusahaan, tak sepenuhnya perusahaan memiliki kesadaran dan kesukarelaan untuk menyalurkannya tanpa adanya paksaan melalui regulasi. Sebalikya dari sisi pemerintah, menjadikan CSR semacam sumbangan wajib karena melihat adanya dana yang cukup besar untuk dapat dikelola dalam pembangunan daerah.

Fenomena CSR seperti inilah yang terjadi saat ini di Indonesia. Peran aktif masyarakat, dan pemerhati CSR diperlukan untuk menjaga transparansi pelaksanaan CSR tersebut.

 

share yuk:

Religi Camp

Akhir tahun lalu, 27-29 Desember 2013 kami dari DPN Peradah Indonesia berkesempatan hadir ke Banyuwangi dalam rangka Religi Camp yang diselenggarakapn DPP Peradah Jawa Timur. Kegiatan dipusatkan di pelataran Pura Agung Blambangan dan esok harinya dilanjutkan di Pura Giri Slaka, Alas Purwo. Acara dihadiri pemuda Hindu dari berbagai daerah di Jawa Timur seperti Malang, Blitar, Surabaya, Mojokerto, Banyuwangi, Pasuruan, dan sebagainya.

Acara yang dikemas dengan suasana kekeluargaan dan penuh makna ini menjadi sarana bagi Peradah Jawa Timur untuk memperkuat persaudaraan antara pemuda dari berbagai kabupaten. Pendekatan kegiatan keagamaan dan kemasyarakatan cukup efektif dalam membangun rasa ‘nasionalisme’ para peserta. Pelaksanaan di pura misalnya, secara tidak langsung membangun sradha peserta sekaligus membangun solidaritas kepada sesama melalui kegiatan bhakti sosial.

Begitu juga kegiatan team building di Alas Purwo, semakin mempererat sisi humanis sebagai sesama pemuda dalam merealisasikan berbagai program keumatan dan kepemudaan. Tentu tidak selesai begitu saja, keberhasilan dari program ini akan ditentukan oleh komitmen para peserta setelah pulang ke daerahnya masing-masing. Perlu copy-paste semangat, kemudian diterjemahkan dalam program nyata yang dapat dirasakan oleh masyarakat.

Menyemai semangat melalui kegiatan religi camp sangat efektif dalam membangun solidaritas. Tentu saja, copy paste program ini diperlukan diberbagai daerah, tidak hanya berhenti di Jawa Timur.

share yuk:

Arise Arjuna!

Janganlah bertindak sebagai seorang pengecut, oh Arjuna! Tiada laba yang akan kau petik dari kelakuanmu ini. Buanglah jauh-jauh kelemahan hatimu. Bangkitlah, wahai Arjuna! [BG II.3]
Arise Arjuna ! Bangkitlah, wahai Arjuna. Pesan dari sloka dalam Bhagavad Gita tersebut mengingatkan kita, bahwa kita sebagai pemuda memiliki peran sekaligus tanggung jawab yang besar pada masa kini, maupun masa depan. Pesan tersebut digaungkan dalam pertemuan World Hindu Youth Conference (WHYC) yang diselenggarakan Peradah Indonesia bersama KMHDI akhir Maret 2013 lalu di Bali.
Pertemuan pemuda dan mahasiswa Hindu dari berbagai negara ini digagas sejak 2010 lalu sebagai sarana untuk memperluas networking dan saling membuka wawasan dan pemikiran terhadap peradaban umat manusia masa depan. Selain itu, pertemuan pemuda dan mahasiswa tersebut diharapkan menjadi daya dorong bagi Peradah dan KMHDI dalam meningkatkan kemampuan akses program-program dalam upaya pemberdayaan masyarakat.
Lantas, apakah conference itu hanya berlalu begitu saja? Tentu saja tidak. Bangunan networking tersebut akan terus diperkuat melalui realisasi-realisasi program yang dapat memperkuat pembangunan dan kaderisasi anggota Peradah maupun KMHDI. Sebut saja misalnya, program beasiswa maupun peningkatan capacity building anggota.
Tentu saja apa yang kita harapkan tidak secepat membalikan telapak tangan, semuanya butuh proses dan komitmen kita bersama untuk menerima hasil yang optimal. Dan harapan penting adalah semoga semangat Arjuna terus tumbuh dalam semangat jiwa para pemuda dan mahasiswa Hindu, yang dapat berperan sebagai Arjuna-Arjuna masa kini.
Ya, tepat rasanya bagi kita semua menjadi Arjuna masa kini. Arjuna yang terus bangkit dari kegundahan, dan keragu-raguan. Arjuna masa kini yang terus terus bekerja, dan bekerja tanpa pamrih. Ya, bangkitlah, wahai Arjuna. Arise Arjuna….

share yuk:

Arise Arjuna!

Janganlah bertindak sebagai seorang pengecut, oh Arjuna! Tiada laba yang akan kau petik dari kelakuanmu ini. Buanglah jauh-jauh kelemahan hatimu. Bangkitlah, wahai Arjuna! [BG II.3]

Arise Arjuna ! Bangkitlah, wahai Arjuna. Pesan dari sloka dalam Bhagavad Gita tersebut mengingatkan kita, bahwa kita sebagai pemuda memiliki peran sekaligus tanggung jawab yang besar pada masa kini, maupun masa depan. Pesan tersebut digaungkan dalam pertemuan World Hindu Youth Conference (WHYC) yang diselenggarakan Peradah Indonesia bersama KMHDI akhir Maret 2013 lalu di Bali.
Pertemuan pemuda dan mahasiswa Hindu dari berbagai negara ini digagas sejak 2010 lalu sebagai sarana untuk memperluas networking dan saling membuka wawasan dan pemikiran terhadap peradaban umat manusia masa depan. Selain itu, pertemuan pemuda dan mahasiswa tersebut diharapkan menjadi daya dorong bagi Peradah dan KMHDI dalam meningkatkan kemampuan akses program-program dalam upaya pemberdayaan masyarakat.
Lantas, apakah conference itu hanya berlalu begitu saja? Tentu saja tidak. Bangunan networking tersebut akan terus diperkuat melalui realisasi-realisasi program yang dapat memperkuat pembangunan dan kaderisasi anggota Peradah maupun KMHDI. Sebut saja misalnya, program beasiswa maupun peningkatan capacity building anggota.
Tentu saja apa yang kita harapkan tidak secepat membalikan telapak tangan, semuanya butuh proses dan komitmen kita bersama untuk menerima hasil yang optimal. Dan harapan penting adalah semoga semangat Arjuna terus tumbuh dalam semangat jiwa para pemuda dan mahasiswa Hindu, yang dapat berperan sebagai Arjuna-Arjuna masa kini.
Ya, tepat rasanya bagi kita semua menjadi Arjuna masa kini. Arjuna yang terus bangkit dari kegundahan, dan keragu-raguan. Arjuna masa kini yang terus terus bekerja, dan bekerja tanpa pamrih. Ya, bangkitlah, wahai Arjuna. Arise Arjuna….

gubernurbali2

share yuk:

Sumpah Pemuda dan Kemandirian Pemuda

Sumpah pemuda 28 Oktober 1928 menjadi pengikat bagi kelanjutan perjuangan mencapai kemerdekaan pada tahun 1945. Para pemuda meneguhkan hati untuk memperkokoh bangunan berbangsa dan bernegara dengan bertumpah darah, berbangsa, dan berbahasa yang satu. Kekuatan dari kebulatan tekad pemuda kala itu menjadi inspirasi sekaligus pemersatu pembangunan kaum muda hari ini.

Kebulatan tekad pemuda 82 tahun yang lalu tersebut terus menginspirasi gerakan kaum muda dalam merajut bangunan berbangsa dan bernegara yang telah diproklamasikan pada 17 Agustus 1945. Kemerdekaan bangsa Indonesia yang telah dicapai tentu saja tidak bisa dilepaskan begitu saja dari peran kaum muda sebagai pencetus sekaligus pewaris bangsa Indonesia.

Perjuangan para pemuda tidak hanya berhenti setelah mencapai cita-cita kemerdekaan. Pergulatan dalam mengisi dan mempertahankan kemerdekaaan menjadi dinamika tersendiri bagi ranah perjuangan para pemuda Indonesia. Tuntutan dan pesan luhur bagi pemuda akan terus memiliki nilai keberlanjutan dari masa ke masa dengan tantangan dan dinamikanya tersendiri.

Setiap jaman melahirkan generasi muda yang berbeda-beda. Kaum muda kemudian dihadapkan pada pilihan-pilihan dan salah satunya adalah kekuasaan. Tidak sedikit kaum muda yang kemudian masuk dalam ranah kekuasaan yang pada akhirnya bergelut dengan berbagai kepentingan kekuasaan dan politik. Berbagai generasi akhirnya terjebak kepada pola kerja dan tuntutan kekuasaan sehingga tidak jarang terjadi benturan idealisme dan kepentingan.

Idealisme Pemuda
Idealisme pemuda seharusnya mampu membawa bangsa ini menuju perbaikan dan kemajuan dalam berbagai sektor kehidupan. Lingkaran kekuasaan baik eksekuif, legislatif, dan yudikatif terlalu banyak membawa kepentingan sehingga terus menggerogoti idealisme dan melunturkan karakter kaum muda.

Tidak saja di lingkaran kekuasaan, kaum muda yang kemudian memilih jalur-jalur profesional pun tergerus oleh kompetisi global yang semakin menghimpit berbagai sektor-sektor kehidupan. Dan perjuangan kaum muda pun perlu merevitalisasi pola pembangunan karakter untuk menghadapi persaingan tersebut.

Lunturnya idealisme dan karakter kaum muda tersebut bisa saja karena tidak dipersiapkannya kompetensi sebagai bekal kaum muda dalam menghadapi persaingan global. Kompetensi yang sedikit kemudian melunturkan karakter kaum muda yang berimbas pada daya juang dan semangat kaum muda secara umum.

Kemandirian Ekonomi
Lunturnya idealisme kaum muda dalam perjuangan tidak bisa lepas dari benturan kebutuhan ekonomi. Di tengah kompetisi global, kaum muda tidak cukup hanya berbekal idealisme semata. Idealisme perlu dibarengi dengan kemandirian sehingga mampu menciptakan kaum muda yang berdikari secara ekonomi.

Tuntutan kemandirian secara ekonomi, bagi penulis, perlu dilakukan oleh kaum muda hari ini untuk meneruskan kebulatan tekad perjuangan mencapai kemerdekaan yang telah dilakukan oleh para pemuda 82 tahun lalu. Konteks hari ini telah menuntut adanya kekuatan ekonomi yang harus dimiliki untuk meneruskan cita-cita sehingga kemandiran bangsa terus dapat dijaga.

Soekarno, Presiden pertama RI menyampaikan tiga hal yang perlu dilakukan untuk mencapai bangsa yang mandiri. Ketiga hal tersebut kemudian dikenal dengan trisakti; (1) berdaulat secara politik, (2) berdikari secara ekonomi, (3) berkepribadian secara sosial budaya. Soekarno menekankan ketiga hal tersebut sebagai bagian yang saling terkait untuk mencapai kemandirian bangsa.

Kaum muda sudah seharusnya merenungkan makna dari trisakti tersebut sebagai inspirasi untuk mampu membangun kekuatan ekonomi, politik, dan sosial budaya sebagai karakater kaum muda yang tidak tergoyahkan. Berdikari secara ekonomi, bagi penulis dalam konteks hari ini merupakan kekuatan untuk mampu mencapai kedaulatan politik, dan kepribadian sosial budaya.

Dengan berdikari secara ekonomi, berdaulat secara politik, dan memiliki kepribadian secara sosial budaya, idealisme kaum muda tidak akan mampu ‘dibeli’ dengan berbagai kepentingan. 82 tahun sumpah pemuda merupakan refleksi bagi bangsa Indonesia khususnya kaum muda untuk terus merevitalisasi nilai-nilai sumpah pemuda guna membangun kaum muda yang berkarakter.

Sudah saatnya kaum muda terbangun dari romantisme masa lalu dan bangkit dalam realitas hari ini; memperkuat karakter dan membangun kompetensi. Hal inilah yang akan mampu mengantarkan kehidupan mandiri dalam negara demokrasi yang berdasarkan hukum dan berkeadilan sosial. #

share yuk:

Nyepi untuk Ketenangan Negeri

Pekan ini umat Hindu Indonesia merayakan hari raya Nyepi tahun baru saka 1932. Seperti biasanya berbagai rangkaian kegiatan untuk menyambut perayaan Nyepi dilakukan, seperti Melasti hingga Dharma Santi. Hari raya Nyepi jatuh pada tanggal 16 Maret 2010 mendatang. Pada hari tersebut umat Hindu akan melaksanakan brata penyepian.
Pada saat Nyepi tersebut, umat Hindu melakukan amati geni (tidak menyalakan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungaan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak berpoya-poya/ tanpa hiburan).
Diharapkan melalui brata penyepian tersebut, umat Hindu dapat menemukan jati diri untuk melangkah lebih baik lagi pada tahun berikutnya. Melalui kontemplasi yang penuh makna untuk mencapai kesadaran diri, umat Hindu berharap terwujudnya kedamaian diri, bangsa dan negara.
Tentu saja kedamaian menjadi harapan setiap umat manusia karena dengan damai dapat terwujud sinergi untuk saling mengisi dalam aktivitas apapun. Dan berangkat dari kesadaran serta kedamaian dalam diri ini kita dapat melangkah lebih luas lagi untuk menciptakan kesejahteraan baik bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Kedamaian untuk Negeri
Makna Nyepi tidak saja untuk ketenangan diri, melainkan juga untuk masyarakat yang lebih luas lagi. Melalui kesadaran diri diharapkan dapat memberikan dampak bagi pembangunan masyarakat sekitar. Dengan demikian akumulasi kesadaran dan kedamaian diri memberi dampak bagi pembangunan negeri.
Tercapainya kedamaian negeri akan mengantarkan kesejahteraan bagi masyarakat. Akhir-akhir ini kondisi politik-lah yang membuat suasana negeri kian ‘panas’. Setiap hari masyarakat selalu disuguhkan sajian media terkait dengan kondisi perpolitikan negeri. Kondisi ini tentu saja sedikit melupakan kemajuan sektor lainnya seperti ekonomi, budaya, maupun pertahanan keamanan.
Hasilnya, banyak sektor yang mengalami gangguan, pun pemerintah tentu saja akan sulit untuk fokus pada program-program pro masyarakat. Bila kondisi ini berlarut-larut akan sangat susah untuk mencapai pembangunan yang berkelanjutan. Hal ini bisa saja terjadi sebab masing-masing pihak hanya berupaya untuk mempertahankan kondisi saat ini saja tanpa melihat keberlangsungan masa depan. Untuk itu perenungan yang dalam perlu dilakukan elit bangsa ini untuk melihat dan melangkah bersama memajukan negeri.

Politik Mendominasi
Beberapa minggu lalu, konstelasi politik nasional menjadi sorotan tajam terkait dengan kasus Bank Century. Kondisi ini mengantarkan puncaknya pada rapat paripurna DPR RI. Tentu saja lobi-lobi politik dilakukan begitu kencang terkait pilihan-pilihan keputusan yang diambil. Pun pasca paripurna DPR RI tersebut masih berlanjut kepada hangatnya kondisi perpolitikan di Indonesia.
Tentu saja kondisi-kondisi lainnya seolah tidak mendapat perhatian serius sehingga berpotensi mengalami kemunduran. Bila fokus dan stabilitas nasional didominasi oleh ramainya politik, dikhawatirkan akan mempengaruhi kondisi perekonomian yang muaranya akan semakin memperbesar jurang kemiskinan.
Dengan kondisi bangsa dan negara yang sedang merajut pembangunan menuju perekonomian yang kuat, sulit rasanya bila tidak dimulai dari kuatnya perekonomian berkelanjutan yang dapat memenuhi kebutuhan saat ini dan masa yang akan datang. Dengan kuatnya perekonomian, negara dan pemerintah dapat memberikan manfaat yang sebaik-baiknya kepada masyarakat.
Melalui momentum ini sudah saatnya kita bersama-sama membangun berbagai sektor kehidupan dengan semangat politik kebersamaan untuk memajukan masyarakat Indonesia. Politik kebersamaan ini mengutamakan kepentingan bangsa dan negara menuju kesejahteraan masyarakat dalam bingkai demokrasi dan keadilan sosial.
Rasanya makna Nyepi dalam perenungan dan intropeksi sangat relevan untuk merajut kebersamaan membangun negeri. Melalui intropeksi diri sudah saatnya kita bersama-sama berbuat dan bertindak untuk kepentingan bersama, bukan lagi untuk kekuasaan semata. Keanekaragaman budaya, suku, agama, dan masih banyak lagi yang dimiliki bangsa Indonesia merupakan tali untuk mempererat ikatan kebersamaan. Saatnya tenangkan diri, membangun negeri, mari Nyepi…

Wayan Sudane
Peminat Social Responsibility; Ketua DPN Peradah Indonesia
Tulisan dimuat di Lampung Post

share yuk:

Cangkuang; Kami Pun Tak Melupakan

#repost
Hembusan angin dan panorama pagi itu (27/12) mengantarkan alam pikiran kita akan keindahan bumi Nusantara ini. Jalanan yang diapit oleh sawah dan semak-semak ditambah dengan birunya perbukitan menggiring kesejukan hati untuk tulus dan berbhakti.
Tak lama melintasi pemandangan itu, kami pun tiba pada tujuan. Cangkuang. Ya, Cangkuang adalah nama desa yang ada di kecamatan Leles, kabupaten Garut, Jawa Barat. Didesa inilah terdapat sebuah Candi, tepatnya di sebuah pulau kecil yang bentuknya memanjang dari barat ke timur dengan luas 16,5 ha.
Mengutip id.wikipedia.org, Candi ini pertama kali ditemukan pada tahun 1966 oleh tim peneliti Harsoyo dan Uka Candrasasmita berdasarkan laporan Vorderman (terbit tahun 1893) mengenai adanya sebuah arca yang rusak serta makam leluhur Arif Muhammad di Leles. Walaupun hampir bisa dipastikan bahwa candi ini merupakan peninggalan agama Hindu (kira-kira abad ke-8 M, satu zaman dengan candi-candi di situs Batujaya dan Cibuaya), yang mengherankan adalah adanya pemakaman Islam di sampingnya.
Dengan tempat yang berada ditengah danau Cangkuang, Candi ini memiliki nilai dan makna tersendiri bagi para pengunjungnya.

share yuk:

Seperti Apa Komunikasi Politik umat Hindu ?

Seperti kita saksikan diberbagai media baik cetak maupun elektronik, banyak pakar dan elit politik menyampaikan bahwa tahun 2009, akan diriuhkan dengan berbagai agenda politik dalam ajang pemilihan umum (pemilu) legislatif (DPR, DPRD, DPD) yang disusul dengan pemilihan umum presiden dan wakil presiden. Tak heran lantas banyak kalangan menyebut tahun 2009 ini sebagai tahun politik. Tahun dimana akan terjadi integrasi antara berbagai kepentingan baik kelompok maupun kepentingan bangsa dan negara.
Kita pun selalu disajikan dengan berbagai adegan politik melalui berbagai keputusan yang fenomenal ditengah mepetnya waktu penyelenggaraan pemilu yang tinggal beberapa bulan lagi. Misalnya saja keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang mengabulkan uji materi pasal 214 UU No 10 Tahun 2008 tentang pemilu. Hasilnya penetapan anggota legislatif untuk Pemilu 2009 akan ditentukan dengan sistem suara terbanyak.
Keputusan itu tentu dapat mendorong proses demokrasi yang substansi ditengah banyaknya keraguan kepada partai politik. Sang calon legislatif (caleg) pun didorong bekerja lebih giat untuk memperoleh suara dari pemilih. Sebuah proses demokrasi yang mulai terbuka ditengah pendidikan politik yang belum begitu baik. Kalau ini dapat berjalan baik, artinya para elit partai dapat menerima dengan lapang dada dan melaksanakan keputusan ini dengan bijak, politik di tanah air ini dapat dicapai dengan baik pula.
Pendidikan Politik
Tak dipungkiri proses demokrasi ini membawa dampak yang lumayan banyak bagi proses kehidupan bernegara umat Hindu. Proses ini tentu sebuah kewajiban dharma negara umat dalam mengawal proses kenegaraan yang diyakini tak lepas dari tuntutan politik. Artinya, kepentingan umat Hindu nasional dapat diperjuangkan melalui jalur-jalur politik. Untuk itu infrastruktur dan penguasaan beberapa elemen strategis sangat penting, salah satunya adalah legislatif baik kabupaten/ kota, provinsi, hingga nasional. Untuk itu semakin banyak umat Hindu menduduki posisi-posisi legislatif tersebut, tentu akan semakin baik pula kepentingan umat Hindu ter-aspirasikan di pemerintahan.
Masalahnya kemudian adalah pada proses pencapaian posisi legislatif yaitu untuk menduduki kursi dewan perwakilan rakyat (DPR). Politisi Hindu yang mencalonkan diri dibeberapa daerah dari berbagai partai politik tentu tidak lepas dari harapan kepada umat Hindu itu sendiri sebagai pemilihnya. Disinilah pendidikan politik dan kedewasaan politik umat Hindu diperlukan. Artinya juga harus ada koordinasi dan paradigma yang baik sehingga tidak terjadi eksploitasi kepentingan baik bagi sang calon maupun umat sebagai pemilih.
Dalam UU No. 2 tahun 2008 tentang partai politik dijelaskan bahwa pendidikan politik adalah proses pembelajaran dan pemahaman tentang hak, kewajiban, dan tanggung jawab setiap warga negara dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Nah, dari definisi itu dapat kita tangkap bahwa harus ada sebuah pemahaman antara pemilih dan yang akan dipilih (caleg) dalam suatu visi yang sama.
Dari kesemuanya itu, adakah sebuah proses pendidikan yang sudah dilakukan sang calon ? atau hanya sebuah retorika pencitraan yang melupakan proses pendidikan politik.
Beberapa hal yang harus dicermati adalah track record dari sang calon, yang tentu terkait dengan latar belakangnya. Tak sedikit juga para calon yang selalu mengumbar janji dalam komunikasi politik yang dilakukan. Ada keselarasan antara pendidikan politik yang belum baik ditutupi dengan kemasan kampanye super baik sehingga tertanam (positioning) citra produk politik yang baik.
Dengan ramainya hiruk pikuk pasar politik saat ini, sungguh sangat sulit membedakan antara kampanye politik dan kampanye pemilu. Menurut Firmanzah dalam bukunya Marketing Politik, antara pemahaman dan realitas, menjelaskan harus ada redefinisi kampanye. kedua hal ini memiliki perspektif yang berbeda. Misalnya dari dari tujuannya, kampanye pemilu cenderung menggiring pemilih ke blik suara, sedangkan kampanye politik lebih menitik beratkan pada image politik. Begitu juga dari strategi yang dilakukan, kampanye pemilu untuk melakukan mobilisasi dan berburu pendukung (push-marketing), sedangkan kampanye politik untuk membangun dan membentuk reputasi politik (pull-marketing). Nah, tentu kampanye politik memerlukan waktu yang cukup panjang, sedangkan kampanye pemilu cenderung jangka pendek, sesuai kebutuhan. Dari sinilah dapat dibaca track record sang calon legislatif maupun partai politik mengingat setiap aktivitas partai politik selalu menjadi perhatian masyarakat.
Masyarakat tentu dapat dengan cermat memperhatikannya, agar suara tidak sia-sia begitu saja. Sebuah ikatan relasional akan terbangun bila sang calon menyadari arti pentingnya politik dan konstituen yang ia wakili. Memberikan konstribusi bagi pembangunan umat Hindu melalui pola keterwakilan dalam pemerintahan.
Kondisi ideal ini sangat sulit dicapai karena berbagai hal, salah satunya adalah masih lemahnya infrastruktur umat Hindu. Salah satu indikatornya adalah dapat dilihat dari organisasi massa berbasis Hindu. Prajaniti Indonesia yang memang didedikasikan untuk mengakomodir kepentingan dan perjuangan politik umat Hindu tidak dapat berjalan dengan baik. Sementara organisasi lainnya memiliki fokus dan ladang garapan yang berbeda seperti Peradah Indonesia, lebih fokus pada pembinaan para pemuda, KMHDI lebih fokus pada kaderisasi para kader mahasiswa. Pun WHDI yang menaungi kegiatan wanita Hindu Indonesia.
Al hasil Parisada, sebagai majelis tertinggi terkadang tak luput harus mengakomodir dan melakukan ‘regulator’ berbagai kepentingan politik umat. Dalam arti Parisada pun harus menampung berbagai keluhan politik umat, belum lagi masalah pembinaan umat. Akhirnya majelis kita memikul beban masalah yang begitu berat. Selanjutnya patut juga dipertanyakan, kemana Prajaniti Indonesia yang seharusnya dapat lebih maksimal berperan sebagai ‘regulator’ perjuangan dan kepentingan politik umat Hindu ?
Pertanyaan selanjutnya adalah seperti apa komunikasi politik umat Hindu menjelang pemilihan umum 2009 ? Adakah yang berperan sebagai ‘regulator’ untuk mewadahi aspirasi umat Hindu dalam perjuangan kepentingan umat Hindu di tanah air ?

share yuk: